PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MUATAN IPS MELALUI MODEL COOPERATIVE SCRIPT BERBANTUAN MEDIA POWERPOINT

IMPROVING THE QUALITY OF SOCIAL STUDIES CONTENT LEARNING LOAD THROUGH OF THE COOPERATIVE SCRIPT MODEL ASSISTED BY POWERPOINT MEDIA

 Munzir

SD Negeri 2 Beleka, Kab. Lombok Barat

E-mail: munzir.emen@gmail.com

 

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran muatan IPS melalui model cooperative script pada siswa kelas V-A. Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus, setiap siklus satu kali pertemuan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes (observasi, wawancara, dokumentasi). Data dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterampilan guru siklus I skor 21 kriteria cukup, siklus II skor 27 kriteria baik, dan siklus III skor 32 kriteria sangat baik; (2) aktivitas siswa siklus I skor 17 kriteria cukup, siklus II skor 21 kriteria sangat baik, dan siklus III skor 24 kriteria sangat baik; (3) ketuntasan klasikal siklus I 60%, siklus II 72%, dan siklus III menjadi 88%. Simpulan dari penelitian ini adalah penerapan model cooperative script dapat meningkatkan kualitas pembelajaran muatan IPS siswa kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat.

 

Kata kunci: kualitas, pembelajaran, muatan IPS, cooperative script, powerpoint

 

 

Abstract: The purpose of this study was to improve the quality of social studies learning through the cooperative script model in class V-A students. The design of this study uses classroom action research consisting of three cycles, each one-cycle meeting includes planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques using test and non test techniques (observation, interviews, documentation). Data were analyzed using quantitative and qualitative analysis techniques. The results showed that: (1) the skills of the first cycle teacher scores 21 sufficient criteria, in the second cycle scores 27 good criteria, and in the third cycle scores 32 very good criteria; (2) student activity in the first cycle scores 17 sufficient criteria, in the second cycle scores 21 very good criteria, and in the third cycle scores 24 criteria very well; (3) the classical completeness of cycle I 60%, cycle II 72%, and cycle III becomes 88%. The conclusion of this study is the application of the cooperative script model can improve the quality of learning social studies content of class V-A students of SD Negeri 2 Beleka, West Lombok Regency.

 

Keywords: quality, learning, social studies content, cooperative script, powerpoint

 


Berdasarkan hasil observasi ditunjukkan bahwa kualitas pembelajaran muatan IPS kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat masih rendah. Hal ini disebabkan guru belum menggunakan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif, selama pembelajaran guru kurang maksimal memanfaatkan media pembelajaran. Selain itu guru kurang melibatkan keseluruhan siswa untuk aktif dalam diskusi, hanya beberapa siswa saja yang aktif merespon dengan baik selama kegiatan diskusi berlangsung.

Masalah juga disebabkan oleh siswa. Sebagian besar siswa kelas V-A bersikap pasif dalam mengikuti pembelajaran IPS. Hanya beberapa siswa saja yang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar sedangkan yang lainnya bersikap pasif dan cenderung tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Hasil ulangan harian IPS tergolong rendah. Hal ini dapat diketahui dari data pada penilaian hasil ulangan harian pembelajaran IPS pada siswa kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat, terdapat 16 dari 25 siswa mengalami ketidaktuntasan belajar yaitu dengan nilai rata-rata kurang dari 75.

Menurut Spears belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan. Menurut Gagne (dalam Suprijono, 2012:2) belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh dari langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Sementara itu Skinner (dalam Dimiyati dan Mudjiono, 2009:9) berpandangan bahwa belajar adalah perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun.

Berdasarkan pendapat-pendapat pengertian belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup melalui aktivitas/perilaku mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan, sehingga responsnya menjadi lebih baik.

Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa (Winkel, dalam Siregar & Nara, 2011:12). Pembelajaran sebagai pengaturan peristiwa secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna (Gagne, dalam Siregar & Nara, 2011:12). Pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali (Miarso, dalam Siregar & Nara, 2011:12). Dari beberapa pengertian pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja dan seksama yang dirancang agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna.

Kualitas mengarah pada keadaan yang baik. Kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau keefektifan (Hamdani, 2011: 194). Secara definitif, efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya. Efektivitas belajar adalah tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk pembelajaran seni. Pencapaian tujuan tersebut berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses pembelajaran. UNESCO (dalam Hamdani, 2011: 194) menetapkan empat pilar pendidikan untuk mencapai efektivitas belajar yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan.

Pengertian hasil belajar menurut Rifa’i dan Anni (2009: 85) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Bloom (dalam Thobroni, 2012: 23-24) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sumaatmadja (dalam Supriatna, 2008:1) mengemukakan bahwa "Secara mendasar pengajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya”. IPS berkenaan dengan cara manusia menggunakan usaha memenuhi kebutuhan materinya, memenuhi kebutuhan budayanya, kebutuhan kejiwaannya, pemanfaatan sumber yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya, dan lain sebagainya yang mengatur serta mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial adalah pengetahuan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, ilmu-ilmu sosial itu disederhanakan untuk tujuan pendidikan, sedangkan isi IPS adalah aspek- aspek geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi dan filsafat yang dalam praktik dipilih untuk tujuan pembelajaran di sekolah.

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget 1963 (dalam Gunawan, 2013: 82) berada dalam perkembangan keterampilan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. SD memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap tahun yang akan sebagai waktu yang masih jauh. Yang pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa depan yang belum pahami (abstrak). Konsep- konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada SD.

Model cooperative script merupakan model pembelajaran yang membantu siswa berfikir secara sistematis dan berkonsentrasi pada pembelajaran siswa juga dilatih untuk saling bekerjasama satu sama lain dalam suasana yang menyenangkan. Cooperative script juga memungkinkan siswa untuk menemukan ide-ide pokok dari gagasan besar yang disampaikan oleh guru (Miftahul Huda, 2013).

Media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya. Arsyad (2013: 3) mengemukakan bahwa media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis.

Microsoft Powerpoint merupakan sebuah software yang berbasis multi media (Daryanto, 2013:157). Program powerpoint merupakan satu software yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan dan relative murah, karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk menyimpan data (data storage) (Susilana, 2009:101).

Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013) dengan judul Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS Melalui Model Cooperative Script dengan Media Audiovisual pada Siswa Kelas V SDN Mangkangkulon 01 Kota Semarang.Hasil penelitian menunjukkan keterampilan guru dalam mengajar pada siklus I memperoleh skor 34 yang masuk dalam kategori baik (B), pada siklus II memperoleh skor 39 yang termasuk dalam kategori baik (B), dan terjadi peningkatan lagi pada siklus III dengan mendapatkan skor 47 yang masuk dalam kategori sangat baik (SB). Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 15 yang masuk dalam kategori cukup (C), kemudian meningkat pada siklus II memperoleh skor 21 yang termasuk dalam kategori baik (B), dan terjadi peningkatan lagi pada siklus III dengan mendapatkan skor 23 yang masuk dalam kategori sangat baik (SB). Sedangkan untuk hasil belajar siswa, siklus I, diperoleh persentase ketuntasan 66%, pada siklus II diperoleh 73%, dan pada siklus III diperoleh 83%. Jadi dapat disimpulkan bahwa melalui model Cooperative Script dengan media audiovisual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS.

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dapat dijadikan acuan untuk melakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Muatan IPS Melalui Model Cooperative Script Berbantuan Media PowerPoint di Kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat”.

Penelitian ini bertujuan: (1) Meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran muatan IPS melalui model coopertive script berbantuan media powerpoint; (2) Meningkatkan aktivitas siswa kelas V-A dalam pembelajaran muatan IPS melalui model coopertive script berbantuan media powerpoint; (3) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V-A dalam pembelajaran muatan IPS melalui model coopertive script berbantuan media powerpoint.

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan model dan media pembelajaran yang bersifat teoritis dan praktis.

Berdasarkan hasil observasi di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat menunjukkan bahwa terdapat permasalahan dalam pembelajaran, hal ini ditunjukkan dengan hasil ulangan harian pada semester I tahun ajaran 2019/2020 muatan pelajaran IPS pada siswa kelas V-A. Dari 25 siswa hanya 9 siswa yang mendapat nilai di atas KKM sedangkan sisanya 16 siswa nilainya di bawah KKM.

Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran IPS di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat akan diterapkan model cooperative script dengan media powerpoint agar dapat membantu guru dalam memberikan materi dengan baik sehingga hasil belajar siswa akan mencapai hasil yang memuaskan.

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Penerapan model pembelajaran cooperative script berbantuan media powerpoint dapat meningkatkan kualitas pembelajaran muatan IPS di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat.

 

METODE

Subyek penelitian ini adalah Guru dan siswa kelas V-A. Siswa kelas V-A berjumlah 25 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat.

Variabel dalam penelitian ini adalah: (1) Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS; (2) Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS; (3) Hasil belajar.

Daryanto (2011:4) menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Secara garis besar ada empat tahapan dalam model penelitian tindakan yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; 3) pengamatan; 4) refleksi. Fase-fase dalam penelitian tindakan dapat dijabarkan sebagai berikut.

(Arikunto, 2014: 16)

Gambar 1. Prosedur PTK

 

Sumber data diperoleh dari siswa, guru dan dokumen. Sumber data siswa diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui model cooperative script dengan media powerpoint yang diperoleh secara sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus ketiga, hasil evaluasi dan hasil wawancara guru observer. Sedangkan sumber data guru diperoleh dari pengamatan aktivitas guru dalam mengajar. Serta sumber data dokumen dalam penelitian ini berupa data awal nilai hasil tes sebelum dilakukan tindakan, hasil pengamatan, dan hasil foto selama proses pembelajaran.

Ada dua jenis data dalam penelitian ini, yakni: data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif didapatkan dari perolehan hasil belajar siswa. Sedangkan data kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang didapatkan dari hasil observasi selama tindakan berlangsung.

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari: teknik tes dan teknik non tes. Teknik non tes yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini yaitu: (1) observasi: (2) catatan lapangan: (3) dokumentasi.

Analisis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Teknik kualitatif digunakan untuk menggambarkan keterlaksanaan rencana tindakan, menggambarkan pelaksanaan pembelajaran dan mendeskripsikan peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis pencapaian belajar atau prestasi belajar siswa.

Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rerata, skor maksimal, skor minimal. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk persentase.

Tabel 1. Kriteria Ketuntasan Belajar

Ketuntasan Belajar

Kualifikasi

Individual

Klasikal

< 75

< 75%

Tidak tuntas

≥ 75

≥ 75%

Tuntas

 

Data kualitatif berupa data lembar hasil observasi aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative script dengan media powerpoint, serta hasil catatan lapangan dan wawancara dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Data kualitatif ini diperoleh dari pengolahan data yang didapat dari instrumen pengamatan keterampilan guru dan instrumen pengamatan aktivitas siswa.

 

Tabel 2.  Deskripsi Kualitatif Keterampilan Guru

Skor

Nilai

29,75 ≤ skor ≤ 36

Sangat baik

22,5 ≤ skor ≤ 29,75

Baik

17,25 ≤ skor ≤ 22,5

Cukup

9 ≤ skor ≤ 17,25

Kurang

 

Tabel 3.  Deskripsi Kualitatif Aktivitas Siswa

Kriteria Ketuntasan

Kategori

23,25 ≤ skor ≤ 28

Sangat baik (A)

17,5 ≤ skor ≤ 23,25

Baik (B)

11,75 ≤ skor ≤ 17,5

Cukup (C)

7 ≤ skor ≤ 11,75

Kurang (D)

 

Pembelajaran dengan model cooperative script berbantuan media powerpoint pada siswa kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat dapat dikatakan berhasil jika: (1) Ketrampilan guru pada pembelajaran IPS melalui model cooperative scrip berbantuan media powerpoint meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik (B); (2) Aktivitas siswa pada pembelajaranIPS melalui model cooperative script berbantuan media powerpoint meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik (B); (3) Siswa kelas V-A mengalami ketuntasan belajar klasikal sekurang-kurangnya 75% dan mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 75 dalam pembelajaran melalui model cooperative script dengan media powerpoint.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang dilaksanakan dengan prosedur penelitian tindakan kelas, model pembelajaran cooperative script yang di gunakan pada penelitian ini terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran muatan IPS di SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi proses pembelajaran muatan IPS. Observasi dilakukan pada guru dan siswa serta peningkatan hasil belajar siswanya. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui tiga siklus. Dan setiap siklus terdiri dari beberapa tahap, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, refleksi, dan revisi.

Hasil penelitian digambarkan sebagai berikut:

 

Gambar 2.  Diagram keterampilan guru

 


Gambar 3. Diagram aktivitas siswa

 

Gambar 4. Diagram Ketuntasan Belajar

 

Berdasarkan gambaran hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model Coopertave Script dengan media powerpoint di SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat telah dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

 

Pembahasan

Berdasarkan uraian hasil pengamatan keterampilan guru, terjadi peningkatan keterampilan guru dari siklus I sampai dengan siklus III. Dari siklus I memperoleh skor 21 yang masuk dalam kategori cukup (C), kemudian meningkat pada siklus II memperoleh skor 27 yang termasuk dalam kategori baik (B), dan terjadi peningkatan lagi pada siklus III dengan mendapatkan skor 32 yang masuk dalam kategori sangat baik (A). Dari data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru sudah mencapai indicator keberhasilan yang ditetapkan yaitu keterampilan guru meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wijayanti (2013) Model cooperative script dengan media audiovisual dapat meningkatkan keterampilan guru pada pembelajaran IPS. Peningkatan tersebut bertahap dalam pelaksanaan penelitian selama tiga siklus. Keterampilan guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu keterampilan guru meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik dan penelitian yang dilakukan Malakhati (2014), melalui penerapan model numbered head together berbantuan microsoft powerpoint dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Salaman Mloyo Semarang.

Berdasarkan uraian hasil pengamatan aktivitas siswa, terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I sampai dengan siklus III. Dari siklus I memperoleh skor 17 yang masuk dalam kategori cukup (C), kemudian meningkat pada siklus II memperoleh skor 21 yang termasuk dalam kategori baik (B), dan terjadi peningkatan lagi pada siklus III dengan mendapatkan skor 24 yang masuk dalam kategori sangat baik (A). Dari data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu aktivitas siswa meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wijayanti (2013) model cooperative script dengan media audiovisual dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran IPS. Peningkatan tersebut bertahap dalam pelaksanaan penelitian selama tiga siklus.

Hasil belajar dalam penelitian ini didapatkan dari hasil kegiatan evaluasi yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Rata-rata hasil evaluasi pembelajaran IPS mengalami peningkatan. Setelah dilaksanakan siklus III melalui model cooperative script dengan media powerpoint, terjadi peningkatan kembali pada hasil belajar klasikal dengan nilai rata-rata naik menjadi 88% dengan nilai terendah 72,5 dan nilai tertinggi 90, siswa yang tuntas sebanyak 22 siswa (88%) dan hanya 3 siswa (12%) yang belum mengalami ketuntasan. Hasil data tersebut menunjukkan adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Selain itu, hasil tersebut menunjukkan sudah tercapainya indikator keberhasilan yang harus dicapai yaitu 88% dari indikator yang direncanakan sebesar minimal 75%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013) model cooperative script dengan media audiovisual dapat meningkatkan hasil belajar IPS. Adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang menunjukkan sudah tercapainya indikator keberhasilan yang harus dicapai dengan kategori baik (B), dan penelitian yang dilakukan oleh Malakhati (2014) model numbered head together berbantuan microsoft powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Salaman Mloyo Semarang pada pembelajaran IPS menggunakan model numbered head together berbantuan microsoft powerpoint.

Berdasarkan penjabaran hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model Coopertave Script dengan media powerpoint di SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat telah dapat meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar pada muatan pelajaran IPS di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat diperoleh kesimpulan bahwa terjadi peningkatan kualitas pembelajaran IPS. Ini menunjukkan bahwa hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa model cooperative script berbantuan media powerpoint dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang terdiri dari keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar IPS di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat telah terbukti kebenarannya.

 

Saran

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V-A SD Negeri 2 Beleka Kabupaten Lombok Barat, maka disarankan hal-hal sebagai berikut: (1) Guru hendaknya menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan menggunakan media pembelajaran pada muatan atau mata pelajaran lain; (2) Siswa hendaknya menambah pengalaman belajar dengan lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Sebagai pelajar haruslah mau menambah pengetahuan darisegala macam sumber termasuk dari temannya sendiri sehingga dapat berpikir kritis; dan (3) agar hasil belajar meningkat, penerapan model cooperative script berbantuan media powerpoint hendaknya dioptimalkan, sehingga hasil belajar siswa pun optimal.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo.

Daryanto. 2013. Media Pembelajaran Perannya Sangat Penting dalam Pembelajaran. Jogjakarta: Gava Media.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunawan, Rudy. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Malakhati, Salika. 2014. Penerapan Model Numbered Head Togeher Berbantuan Microsoft Powerpoint untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS Kelas IV SDN Salaman Mloyo Kota Semarang. Tersedia di http://lib.unnes.ac.id/20074/ [26 Oktober 2019, pukul 19.45]

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes.

Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.

Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Thobroni, Mohammad dan Arif Mustofa. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzzmedia.

Wijayanti, Luci Tri. 2013. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS Melalui Model Cooperative Script Dengan Media Audiovisual Pada Siswa Kelas V SDN Mangkangkulon 01 Kota Semarang. Tersedia di http://lib.unnes.ac.id/18097/ [24 Oktober 2019, pukul 14.00]

 

Munzir

Semoga yang saya publikasikan ini bermanfaat bagi siapa saja terutama bagi rekan-rekan guru dan calon guru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama