Gagas Reading Club Hingga Kembalikan Roh Disarpus

 Catatan Diksusi Era Digital dan  Nasib Buku (Bag 2)

Gagas Reading Club Hingga Kembalikan Roh Disarpus 

=====================================

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi bagi perpustakaan di satu sisi menimbulkan kekhawatiran untuk eksistensi perpustakaan itu sendiri, karena masyarakat menjadi lebih mudah memperoleh informasi tanpa perlu pergi ke perpustakaan sementara di sisi lain menjadikan perpustakaan tetap eksis di tengah gempuran informasi multimedia yang melanda masyarakat. 

Di era dirupsi teknologi tersebut, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Lombok Barat tengah mempersiapkan strategi eksistensi Disarpus salah satunya dengan menggelar diskusi dengan tema : era digital dan nasib buku.

Rasinah Abdul Igit  sebagai pematik dalam diskusi tersebut mengutarakan kekhawatiran nasib media cetak dan nasib buku saat ini ditengah dirupsi teknologi yang mengempur berbagai sektor. Fakta kekinian bahwa dirupsi teknologi itu tidak bisa dihindarkan.

 Masyarakat perpustakaan itu habitatnya tidak digedung yang menyediakan buku. Tapi habitatnya di dunia maya. Perlu adanya infrastruktur digital. Namun hal ini butuh dukungan anggaran. Harus ada e book dan komunitas perpustakaan virtual lainnya.

" Profesi saya adalah wartawan media cetak. Sebagai wartawan media cetak saya sangat ngeri membayangkan masa depan media cetak. Peristiwa hari ini dalam hitungan detik dan menit sudah di ketahui publik. Sedangkan informasi melalui media cetak, kita harus menunggu besok,"katanya.

Fakta kekinian itu juga erat dengan percetakan buku dan nasib buku karena erat kaitan dengan era dirupsi teknologi.  

" Sama halnya dengan televisi. Problemnya adalah pemirsa itu tidak ada ruang untuk mengomentari melalui tulisan. Beda halnya dengan live straiming Youtube, ada kolom komentar,"katanya.

Menurutnya, masyarakat di era dirupsi teknologi ini ingin lebih intem terhadap sesuatu, dan bisa di komentari. Dirupsi itu juga mengarah ke buku dengan lahirnya e book . Ini tantangan kita bersama terutama Disarpus. Apakah programnya konvensional atau menyesuaikan dengan perkembangan zaman?.

" Saya ingin lebih praktis saja. Tujuan kita berdiskusi ini menghasilkan sesuatu demi eksistensi Disarpus.  Bisa saja kita mengandeng guru penggerak ke sekolah-sekolah dan membentuk reading club. Program ini butuh dukungan DPRD dan sektor lainnya,"katanya.

Kehadiran Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lombok Barat Hj Nurul Adha di arena diskusi tersebut memberikan angin segar Disarpus. Lalu, bagaimana dukungan srikandi parlemen Giri Menang ini terhadap anggaran disarpus?   (Bersambung)

SAHMAN

Sahman, S.Pd seorang anak yang terlahir dari rahim keluarga petani. Ia menghabiskan waktu kecilnya dihamparan persawahan yang ada di bundaran Giri Menang Square ( GMS). Tekadnya yang kuat menghantarnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Krikil-kirikil tajam, ia lalui. Universitas kehidupan telah banyak memberikan ilmu bermanfaat yang ia tidak dapatkan dibangku kuliah. Ia pertama kali mengenal dunia tulis menulis berawal ketika berprofesi sebagai loper koran. Sebagai manusia pembelajar, ia meningkatkan kompetensi diri. Akhirnya, ia selama 16 tahun berkecimpung didunia jurnalistik. Berbagai peristiwa dan kebijakan pemerintah daerah Lombok Barat tak terlepas dari goresan penanya.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama