Perpustakaan Pembentuk Peradaban

 Catatan FGD Gerakan Literasi (Bag I)

==================================

      Berbicara mengenai (human investment) penanaman modal manusia melalui Dinas Kearsipan dan  Perpustakaan Daerah Lombok Barat, tentunya memiliki catatan tersendiri bagi daerah ini. Hal ini, ditandai Dikpus belum mampu mencuri perhatian banyak pihak, termasuk dukungan anggaran. 

     Hal itu terungkap ketika Kadis Dikpus Kabupaten Lombok Barat H. Saeful Ahkam memberikan pengantar ketika menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Komunitas Guru Penggerak dan kontributor penulis Jumat (18/2/2022).

    Meski Dikpus belum mampu mencuri perhatian banyak pihak, ia menjadikan hal itu menjadi semangat untuk terus berihtiar agar perpustakaan mampu menjadi "trend" bagi masyarakat dan sebagai pembentuk peradaban.

Dalam catatan sejarah, lanjut  istri dari Hj Yuliani mengatakan bahwa ketika  Dinasti Abbasiyah berkuasa, Islam mengalami kejayaan dalam berbagai bidang kehidupan. Dinasti yang beribukota di Baghdad ini juga menjadi pusat peradaban seluruh dunia.


Salah satu hal yang menandai kemajuan Islam selama kekuasaan Daulah Abbasiyah adalah dibangunnya perpustakaan terbesar di dunia. Perpustakaan tersebut didirikan pada masa pemerintahan khalifah Al Rasyid.

"Sejarah mencatat , ketika Khalifah Abasiah di serang yang pertama di hancurkan adalah perpustakaan,"katanya.

Sejumlah ulama dan ilmuwan lahir di masa kejayaan Dinasti Abbasiyah. Para ahli di bidang hadits adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi.

Dalam bidang matematika Dinasti Abbasiyah melahirkan Al Khawarizmi dengan karyanya Aljabar dan Umar Khayam yang menulis Treatise On Algebra. Daulah Abbasiyah juga menghasilkan para ahli astronomi yaitu Abu Mansur Al Falaqi dan Jabir Al Batani. (Sumber Republika Selasa , 17 Apr 2018, 14:37 WIB)

"Jatuhnya Baghdad, bencana besar literatur Islam,"kata Saeful Ahkam

 Ia kemudian memaparkan bahwa pada 1258 Masehi, muncul sebuah bencana besar yang menimpa peradaban dan literatur Islam, dengan adanya serbuan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

Mereka memorak-porandakan Baghdad. Khalifah dan penduduk ditangkap. Rumah-rumah dibakar. Tak sampai di situ, mereka juga menghancurkan perpustakaan yang sarat dengan manuskrip berharga. Sejarawan Ibnu Khaldun mengungkapkan, manuskrip-manuskrip itu dilemparkan ke Sungai Tigris.

Sebuah legenda muncul, air Sungai Tigris berwarna hitam sekelam tinta pada hari pelemparan buku-buku dari berbagai perpustakaan ke sungai tersebut. Seorang cendekiawan Muslim, Al-Qalqasyandi, menyatakan, semua buku di perpustakaan khalifah hancur.

"Lagi-lagi yang di hancurkan pertama adalah perpustkaan, dan pustakawan,"cetusnya.

Semua jejak dan bermacam-macam ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya pun ikut musnah. Hal serupa juga terjadi di kota-kota Irak lainnya, seperti di Mosul. Beruntung, perpustakaan di Nizamiyah dan Mustansiriya tak ikut dihancurkan sehingga memberikan manfaat besar pada masa selanjutnya.

Sebelum jatuhnya Baghdad, bencana serupa menimpa sejumlah perpustakaan yang ada di wilayah Islam. Di antaranya, pembakaran buku-buku tertentu di Al Hakam, Kordoba, pada abad ke-11. Di Rayy, hal itu terjadi pada 1027 Masehi. Juga, pembakaran buku oleh tentara Salib di Tripoli, Lebanon.

Perpustakaan lainnya yang mengalami nasib serupa adalah Banu Ammar pada 1109 Masehi, Nishapur pada 1153 Masehi, pembakaran Perpustakaan Ghazna pada 1155 Masehi, dan penghancuran Perpustakaan Merv pada 1209 Masehi. Namun, setelah para penguasa Mongol memeluk Islam, kondisi pun berubah.

Mereka memberikan dukungan pengembangan tradisi ilmiah dan penulisan. Pada abad ke-14, misalnya, di Mosul, banyak manuskrip ilmiah yang dihasilkan. Demikian pula, dengan penulisan Alquran. Namun, Irak tak benar-benar pulih seperti sebelumnya. (Di olah dari berbagai sumber).

Catatan-catatan sejarah tersebut, tidak berbanding lurus dengan perhatian banyak pihak terhadap keberadan perpustakaan sebagai pembentuk peradaban. (Bersambung)

SAHMAN

Sahman, S.Pd seorang anak yang terlahir dari rahim keluarga petani. Ia menghabiskan waktu kecilnya dihamparan persawahan yang ada di bundaran Giri Menang Square ( GMS). Tekadnya yang kuat menghantarnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Krikil-kirikil tajam, ia lalui. Universitas kehidupan telah banyak memberikan ilmu bermanfaat yang ia tidak dapatkan dibangku kuliah. Ia pertama kali mengenal dunia tulis menulis berawal ketika berprofesi sebagai loper koran. Sebagai manusia pembelajar, ia meningkatkan kompetensi diri. Akhirnya, ia selama 16 tahun berkecimpung didunia jurnalistik. Berbagai peristiwa dan kebijakan pemerintah daerah Lombok Barat tak terlepas dari goresan penanya.

4 Komentar

  1. Tak salah berawal dari pencinta literasi baca melahirkan penulis andal yang bernama __Sahman__. Membaca dan menulis ibarat makan dan minum. Keduanya selalu hadir berdampingan. Ibarat sepasang kekasih yang saling merindu.

    Lanjut dengan tulisan yang selalu bernas....

    BalasHapus
  2. Imam Asy-Sya’bi pernah berkata,

    “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.”

    Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur,

    الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

    فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

    Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

    Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

    Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

    Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)

    Ikatlah Ilmu dengan Tulisan
    Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

    “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

    Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.

    Sumber https://rumaysho.com/13457-beliau-pun-menyimak-dan-mencatat-ikatlah-ilmu-dengan-menulis.html

    BalasHapus
  3. Terima kasih. Sharing yang sangat manfaat

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama