Menunggu Ajal (Sebuah Pentigraf)

Pentigraf

MENUNGGU AJAL

Ridhan Hadi
ukraina rusia, perang, perang ukraina rusia, pentigraf, menunggu ajal, karya sastra, cerita pendek
Suara ledakan dan tembakan terdengar berbalasan. Ledakan terjadi di mana-mana. Sudah hampir seluruh gedung jalan kota Kiev, Ibu Kota Ukraina hancur terkena bom tentara Rusia. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Aku sendiri sedang bersembunyi di balik reruntuhan Hotel Ukraina, Jalan Heroyiv Nebesnoyi Sotni Alley. Pura-pura terbaring di samping mayat-mayat warga, agar dianggap mati oleh tentara Rusia.

Aku mencoba menggerakkan kakiku. Namun sungguh tak sanggup bagiku, dua hari yang lalu kakiku terkena runtuhan bangunan yang terjatuh menimpa mobilku, aku sempat terjepit. Namun aku berhasil keluar. Bau menyengat dari mayat-mayat yang sudah meninggal dua hari kemarin, membuat pernapasanku sesak. Ditambah darah yang mengalir tak henti dari kaki dan pelipisku, membuat pandanganku berpinar-pinar. Aku juga tak panjang harapan, mungkin nyawaku sebentar lagi akan hilang.

Duarr…!!, Duarr…!!, Suara gemuruh ledakan bom yang bertubi-tubi menghantam Museum of Jellyfish samping Hotel Ukraina. Aku khawatir sasaran berikutnya Hotel ini. Aku berlindung di balik mayat yang dikerumuni lalat. Tak ada regu penolong, suasananya begitu mencekam. Selang waktu setelah ledakan. Aku melihat ibuku keluar dari balik gedung yang baru saja menjadi sasaran. Syukur Tuhan, dia selamat. Dua hari yang lalu aku datang menjemputnya. Namun, serangan itu begitu cepat. Ku pikir Ibuku telah tiada. Dia berjalan tertatih-tatih mendekatiku. Samar aku melihatnya karena debu-debu masih bertebaran di mana-mana. Sayup terdengar dia memanggilku, namun tak berapa lama semakin jelas terdengar. "Adi…,Adi…, Bangun sudah hampir pukul delapan…, kamu tidak berangkat kerja!!!" Teriak mama membangunkanku. Ternyata itu hanya mimpi, pengaruh menonton perang Ukraina vs Rusia tadi malam.
RidhanBlog

Ayo Kita Belajar

2 Komentar

Lebih baru Lebih lama