Firdaus Pada “Perempuan Di Titik Nol” Dan Perempuan-Perempuan Lain Yang Terabaikan


Muhamad Fathul Aziz, Guru penggereak lombok barat, perempuan di titik nol, peresensi novel, Perempuan di titik nol, cerita tentang Perempuan di titik nol, Firdaus Pada “Perempuan Di Titik Nol”  Dan Perempuan-Perempuan Lain Yang Terabaikan,

Judul Novel : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal El-Saadawi
Penerjemah : Amir Sutaarga
Pengantar : Mochtar Lubis
Jumlah Halaman : xiv + 156
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit : 2003 (Edisi ketujuh)
Kota Terbit : Jakarta

Novel “Perempuan di Titik Nol” merupakan karya Nawal El-Saadawi, seorang dokter, novelis, sekaligus pejuang hak-hak perempuan asal Mesir. Novel dengan judul asli “Women at Point Zero” ini diterjemahkan oleh Amiir Sutaga dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada Januari 2003 (edisi ketujuh). Novel ini termasuk tipis dengan jumlah halaman hanya xiv + 156 dan panjang 17 cm. Covernya berwarna merah terang bergambar dua orang perempuan, satu perempuan menatap pembaca dengan tatapan yang aneh. Matanya seperti juling sehingga tidak terlihat pasti mengarahkan pandangan ke arah pembaca, namun tetap tampak sinis sekaligus kosong. Sedang perempuan lainnya duduk di dalam sebuah sel dengan menopang kepala pada tangan yang dilingkarkan di atas kedua lututnya. Perempuan itu tampak menyedihkan dan juga mengerikan.

Novel ini merupakan penceritaan ulang pengalaman pribadi seorang perempuan Mesir bernama Firdaus yang sedang menunggu hukuman mati. Sehingga kesan yang saya dapatkan adalah novel ini lebih mirip dengan biografi seseorang ketimbang sebuah novel. Hanya pemilihan diksi serta tambahan elemen-elemen fiktif seperti penggunaan majas-majas yang membuatnya tampak sebagai novel. Selain itu, sosok Firdaus, yang kebetulan merupakan “paket lengkap” dari korban kesewenang-wenangan laki-laki, juga seperti dijadikan alat oleh Nawal untuk mengimbangi budaya Patriarki yang masih sangat lekat pada budaya Mesir. Sehingga cara yang paling “aman” dan mudah menjangkau berbagai kalangan adalah dengan membungkusnya dalam bentuk karya fiksi.

Mantan Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir yang dipecat setelah menulis novel pertamanya berjudul “Women and Sex” ini menyampaikan dalam sekapur sirihnya bahwa ia menulis novel ini setelah mewawancarai Firdaus di penjara. Sebelumnya Firdaus menolak untuk ditemui siapapun, termasuk oleh Nawal. Ia bahkan menolak untuk menandatangani permohonan kepada presiden agar hukumannya diringankan. Namun setelah Nawal hampir putus asa, akhirnya Firdaus bersedia untuk ditemui.

Setelah berdua dalam sel penjara, Firdaus menceritakan kisah hidupnya. Ia memulai dengan kebiasaan aneh yang dilakukannya: meludahi setiap gambar pejabat atau politisi laki-laki di koran. Ia tahu hal tersebut tidak ada gunanya, namun ia tetap melakukannya. Ia seolah ingin menumpahkan segala dendamnya. Ia seperti ingin menghabiskan seluruh kemarahannya di sisa-sisa waktu yang ia miliki pada setiap laki-laki. Sebab semua laki-laki yang dikenalnya, selama hidupnya, telah merenggut cita-cita dan kebahagiaannya. Seluruhnya, termasuk ayahnya sendiri.

Seluruh rangkaian cerita dalam novel ini mengisahkan betapa menyedihkannya hidup Firdaus sebagai akibat dari keangkuhan laki-laki. Mulai dari ayahnya, petani miskin yang berperilaku seperti raja, yang memukulnya hanya karena meminta sesuap makan malam setelah tak tahan menahan rasa lapar. Kemudian teman masa kecilnya, Muhammadain, melakukan pelecehan seksual kepadanya. Paman yang dikaguminya pun tidak jauh berbeda. Ia melakukan pelecehan seksual pada Firdaus. Bahkan memaksanya mengubur mimpi untuk meneruskan sekolah dengan menikahkannya kepada pria tua, Syekh Mahmoud, yang pelit dengan borok berbau busuk di bawah bibirnya. Pria tua yang seringkali memukulnya, entah dengan atau tanpa alasan.

Rerangkaian kekerasan yang dialaminya telah mendorongnya untuk mengambil keputusan sulit; kabur dari rumah. Keputusan itu yang mempertemukannya dengan pemilik warung bernama Bayoumi. Pemilik warung yang semula ia anggap sebagai penyelamat. Namun kemudian menjadi awal dari kehidupannya sebagai pelacur. Laki-laki dengan hidung besar dan gelap, yang sama sekali tidak tampak ganas dan kejam itu, bersama teman-temannya, memperkosa Firdaus secara bergiliran.

Setelah berhasil kabur dari kurungan Bayoumi itulah ia bertemu dengan Sharifa Salah el Dine, pelacur profesional yang mengajarinya menjual diri. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pelacur profesional yang mandiri.

Keanggunan dan kepercayaan dirinya menjadikannya pelacur kelas atas dengan harga mahal. Ia menjadi kaya raya sehingga mampu mempekerjakan banyak pegawai. Namun egonya untuk mengaktualisasikan diri sebagai wanita terhormat membuatnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang halal. Berbekal ijazah sekolah menengah dan pernghargaan-penghargaan, akhirnya ia berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang kecil. Di tempat kerja barunya itu ia bertemu laki-laki revolusioner yang membuatnya jatuh cinta, untuk kemudian membuatnya patah hati. Patah hati yang membuatnya memutuskan untuk kembali menjual diri.

Pada bagian akhir cerita, Firdaus mengisahkan alasan negara menjatuhinya hukuman mati karena Ia telah membunuh seorang germo. Namun baginya, negara hanya menyembunyikan ketakutan pada dirinya yang telah berani menolak menjadi “patriot”. Sebab sebelumnya, Firadus menolak melayani seorang pejabat negara asing.

Sebagai sebuah dokumentasi kisah nyata, novel ini berhasil menggugah empati saya tentang betapa menyedihkannya hidup Firdaus. Kehidupan yang memaksanya memilih menjadi pelacur. Novel ini juga seolah menunjuk muka saya yang barangkali selama ini telah menjadi bagian dari “monster” -yang meski tidak sampai pada taraf ekstrim memberi alasan perempuan menjadi pelacur- namun menempatkan perempuan pada posisi yang menjadikannya sebagai yang “lain” dalam hidup. Menempatkan perempuan bukan sebagai pelaku yang bebas merdeka menentukan pilihan serta berkontribusi untuk kehidupan.  Setidak-tidaknya, dalam hati saya, pernah terbersit rasa risih saat perempuan yang saya anggap tidak berpendidikan, di kampung, terlalu mengumbar sikap politiknya atau mengutarakan pendapat dalam musyawarah warga. Perasaan yang saya curigai tidak hanya saya rasakan sendiri, melainkan ada juga dalam perasaan laki-laki lain. Bukankah perasaan risih itu, yang jika dirasakan secara kolektif oleh setiap -atau minimal mayoritas- laki-laki, sangat mungkin menjadi tindakan menyepelekan hak-hak berpendapat perempuan? Untuk kemudian mengabaikan kepentingan mereka? Sehingga saya, barangkali pernah menghadirkan luka dalam hati perempuan-perempuan itu. Perempuan yang hari ini tidak lagi bersuara karena lelah diabaikan.


Kelebihan Buku:

  • Novelnya tipis sehingga dapat diselesaikan dalam waktu singkat
  • Menggugah empati pembaca pada kaum perempuan
  • Mengajarkan perempuan untuk lebih berani dan percaya diri

Kelemahan Buku:

  • Terlalu banyak kalimat yang diulang sehingga terasa membosankan
  • Covernya tidak menarik
  • Ceritanya tentang seks sehingga tidak cocok sebagai bahan pembelajaran siswa


Muhamad Fathul Aziz, Guru penggereak lombok barat, perempuan di titik nol, peresensi novel

Peresensi:
Muhamad Fathul Aziz, S.Pd merupakan Guru Penggerak yang mengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gunungsari. Selain mengajar, ia menghabiskan waktu dengan mencoba menjadi bapak yang baik; bermain robot dan mobil-mobilan dengan anak-anak, membacakan cerita, berjalan-jalan, dan sebagainya. Selebihnya, mengomentari segala hal di facebook, menggulir media sosial lainnya, dan saat bosan, mengunjungi teman secara acak tanpa pemberitahuan sebelumnya.

10 Komentar

  1. Balasan
    1. Terima kasih, Buu. Tumben buat resensi ini. 😁

      Hapus
  2. Mantap. Lanjutkan!!! , Ngak salah bergaul di KGP ini.

    BalasHapus
  3. Kereeen pak Ajiz....malah sy Lbh terkesima dan Lbh menyentuh membaca sinopsisnya pak Ajiz....sukses sll pak Ajiz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi malu. 😁😁😁 Pertama kali meresensi ini, Bu Guru. ☺️

      Hapus
  4. Kebiasaanmu itu lho Zis, buruk amat. Gak ada kerjaan? lalu ngunjungi teman2 tanpa pemberitahuan lebih dulu, mau ngerepotin? tapi itu yang aku suka ha ha ha

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama