Gerakan Literasi, Masih Relevankah?


    Dewasa ini kita sering mendegar kata-kata “gerakan literasi” dalam kehidupan kita. Baik dalam dunia pendidikan, dan dunia kerja. Gerakan literasi merupakan salah satu bentuk kesadaran  akan pentingnya  membangun budaya literasi mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan  masyarakat.

    Dilansir dari Wikipedia, istilah literasi dalam bahasa latin disebut sebagai literatus, yang berarti orang yang belajar. Secara garis besar, literasi sendiri ialah istilah umum yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah  di dalam kehidupan sehari-hari. 


    Menurut Elizabeth Sulzby “1986”, literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca”, berbicara, menyimak dan menulis dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya, jika didefinisikan secara singkat, literasi yaitu kemampuah menulis dan membaca.

    Berangkat dari pendekatan profetik (keagamaan), sebetulnya “gerakan literasi” bukan hanya gerakan di zaman modern. Melainkan justru di mulai sejarahnya sejak Nabi Muhammad SAW. Kenapa? Karena Nabi Muhammad SAW pertama mendapatkan wahyu untuk melakukan gerakan literasi, ketika di Gua Hira diperintahkan Allah SWT melalui malaikat Jibril untuk Iqra (membaca). Iqra pada dasarnya adalah gerakan literasi.

    Literasi masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan telah ada sebelum istilah literasi diluncurkan pertama kali oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization(UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB pada tahun 1946 mengenai global literacy effort. Menurut para arkeolog, filolog dan antropolog bahwa literasi tulis-menulis di nusantara sudah berkembang mulai abad 5 masehi sejak kehadiran Hindu dan Budha hingga memasuki abad 13 ketika agama Islam datang.


Di masa Hindu dan Budha sudah dikenal bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa, di era Islam berkembang bahasa Arab dengan aksara Arab-Jawa dan Arab-Melayu. Berdasarkan penuturan beberapa arkeolog, literasi (dalam artian literasi gambar) telah ada pada masa pra sejarah ribuan tahun yang lampau. Selain itu, Indonesianis dari Universitas Hamburg, Jan van der Putten juga turut memaparkan tentang tradisi menulis.(www.edukasiinfo.com).

Jan van der Putten mengatakan, Indonesia memiliki tradisi lisan yang kaya, namun tradisi menulis juga sudah muncul sejak berabad-abad silam. Menurutnya, kekayaan tradisi lisan dan tradisi menulis yang dimiliki dipelihara dan digunakan oleh kalangan tertentu atau untuk tujuan khusus. Salah satunya adalah penyebaran agama melalui tulisan.

    Persoalan literasi masih menjadi hal yang harus dibenahi di Indonesia. Berdasarkan survai yang dilakukan Program For International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

    Ada dua faktor yang disebut menjadi penyebab rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia yakni kurangnya bahan bacaan dan praktik literasi. Berdasarkan data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua  dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia terhitung memprihatinkan, hanya 0,0001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin literasi.

    Gerakan literasi membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun, pelan-pelan pasti membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun, Menurut E. Aminuddin Aziz, Negara-negara maju, seperti Finlandia, Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Singapura baru melihat hasil investasi program gerakan literasi mereka setelah 10 tahun melakukan perbaikan secara terus menerus di hulu dan bergerak perlahan, tetapi pasti menuju hilirnya (Media Indonesia, 4.5-2021).

    Gerakan literasi dewasa ini masih relevan, keberadaannya lah yang sangup membuat sebuah negara semakin maju, seperti contohnya negara-negara maju yang mempunyai budaya literasi yang tinggi. Dalam setiap aktivitas, mereka selalu menyempatkan untuk membaca ataupun menulis pada jam-jam istirahat kerja maupun sekolah.

SAHMAN

Sahman, S.Pd seorang anak yang terlahir dari rahim keluarga petani. Ia menghabiskan waktu kecilnya dihamparan persawahan yang ada di bundaran Giri Menang Square ( GMS). Tekadnya yang kuat menghantarnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Krikil-kirikil tajam, ia lalui. Universitas kehidupan telah banyak memberikan ilmu bermanfaat yang ia tidak dapatkan dibangku kuliah. Ia pertama kali mengenal dunia tulis menulis berawal ketika berprofesi sebagai loper koran. Sebagai manusia pembelajar, ia meningkatkan kompetensi diri. Akhirnya, ia selama 16 tahun berkecimpung didunia jurnalistik. Berbagai peristiwa dan kebijakan pemerintah daerah Lombok Barat tak terlepas dari goresan penanya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama