KGP Lombok Barat terus beraksi



Kumbung, 10 Maret 2022 tepatnya di SMPN 2 Kuripan walau dalam susana hujan,  tidak mengurangi semangat para anggota komunitas guru penggerak untuk melakukan aksi nyata dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kapasitas diri terkait dengan kemampuan literasi mereka. Komunitas yang dipimpin oleh guru hebat Sudomo, S.Pt melanjutkan kegiatan yang pernah dilaksanakan di SMAN 1 Gerung Jumat lalu. Adapun  topik yang diangkat adalah "Menulis Jurnal Ilmiah".

 

Pada kesempatan itu, kegiatan dipandu oleh sang moderator yang merupakan lulusan tiga terbaik guru penggerak angakatan 2 Lombok Barat Siti Husnul Khatimah, S.Pd., M.Pd. Kegiatan diawali dengan memberikan kesempatan kepada salah seorang siswa SMPN  2 Kuripan untuk menyanyikan lagu terkait dengan jasa guru, lagu kedua dengan judul "Kasih tak Sampai"dilantunkan oleh Sumiati, S.Pd. seorang guru penggerak yang sangat suka menulis puisi. 

 

Setelah suguhan dua buah lagu, kegiatan pun dimulai dengan salam penghormatan dan ucapan syukur yang disampaikan oleh sang moderator, acara dibuka dengan mengucapkan basmalah, selanjutnya ketua komunitas Sudomo, S.Pt memberikan kata pengantar sekaligus sambutan. Dalam kesempatan itu dia memberikan ucapan terima kasih kepada tim narasumber yang berasal dari Dinas Pendidikan Kab. Lombok Barat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Lombok Barat, Agus Dedy Putrawan, M.Si dari UIN Mataram, dan tentunya kepada seluruh anggota komunitas yang selalu solid dalam mengikuti program yang dilaksanakan komunitas.

 


Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan H. Saiful Ahkam. Dalam kesempatan itu untuk menjadi penulis yang menghasilkan karya yang baik, setidaknya workshop dilaksanakan selama sepuluh kali pertemuan. Selain itu ada tiga bahan baku yang menjadi acuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung yaitu: Novel dengan judul  “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi, “Hormon dalam Cerita” oleh Tri Sari Wijayanti, S.Pd., M.Pd., dan Analisis "Dan" karya Sheila On Seven oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Gerung.

 

Beliau juga mengingatkan bahwa ke depan diharapkan tercapai harapan Sagu Sabu. Kolaborasi antara Dikbud dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan ke depannya dapat tercapai melalui kegiatan menulis. Beliau berharap ke depan antologi tidak menjadi prioritas, guru dan murid harus bisa menjadi penulis solo. 

 

Sambutan ketiga disampaikan oleh Sekretaris Dikbud Lobar Drs. Haeruddin, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut beliau sangat bersyukur bisa berkomunikasi langsung dengan guru penggerak dan kepada Kadis Kearsipan dan Perpustakaan. Beliau memaparkan menulis itu mulai dari karya yang ringan sampai yang berat. Beliau sempat menyinggung tentang kurikulum sekarang yang tidak ada ketentuan yang mewajibkan anak-anak untuk membaca sejumlah buku dalam satu tahun maupun selama mengenyam pendidikannya dalam sebuah jenjang pendidikan. Beliau juga menyinggung karakter. Karakter itu sangat penting dalam kehidupan terlebih lagi dalam bekerja. Selain itu buku yang ditulis oleh guru harus laku dijual. Guru hendaknya memanfaatkan sedikit dari tunjangan sertifikasinya untuk membeli buku, jangan hanya habis untuk keperluan lainnya yang bukan menunjang kapasitas dan kompetensi diri. 

 

Agus Dedy Putrawan selaku narasumber memaparkan materi terkait artikel ilmiah. Namun sebelumnya Editor In Chiep Jurnal Politea itu bertanya kepada peserta "Mau kopi atau Gula". Kopi maksudnya terkait dengan yang pahit-pahit sebaliknya gula terkait cerita yang manis-manis. Maksudnya seperti apa menjadi penulis.  Banyak buku bukan berarti menjadi lebih baik karena bisa dipengaruhi oleh bagaimana para pembaca terhadap sebuah tulisan. Konsep pintar dan bodoh itu istilah manusia. Pintar itu orang yang tahu duluan sedangkan bodoh itu adalah orang yang belum belajar. Kalah pintar boleh, tetapi kalah rajin itu tidak boleh.

 

Dalam menulis dibutuhkan tiga hal waktu, tenaga, dan mud. Bangsa kita budaya bacanya memang tinggi namun minat menulis sangat rendah. menurutnya menulis itu mudah tinggal membuat outlinenya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis artikel ilmiah yang akan dibuat menjadi sebuah jurnal, yaitu:

1. Membangun state of the art (tren/kekinian/keunikan). Tema yang diangkat hendaknya topik yang saat ini sedang diminati. Untuk mengetahui topik yang sedang tren kita bisa menggunakan google tren.

2. Novelty (kebaruan). Referensi dari tema yang kita tulis hendaknya mengacu dari hasil penelitian lima sampai sepuluh tahun terakhir.

3. Research gap (jarak/kekosongan). Kita bisa mengangkat sesuatu yang belum diangkat atau ditulis pada jurnal orang lain.

4. Reseach contribution (sumbangsih). Hal positif apa yang dapat diambil pembaca dari tulisan yang kita buat. 

Saat membuat penelitian ada tiga hal yang wajib kita perhatikan, yaitu:  

1.     Masalah. Masalah menjadi bagian terpenting dalam membuat karya tulis ilmiah. Dari berbagai permasalahan yang muncul kita bisa kelompokkan masalahan mana yang akan kita angkat dan bahas dalam penelitian kita.

2.     Teori. Teori merupakan salah satu acuan kita dalam membahas persolan yang menjadi titik tumpu kita dalam penelitian. Ada dua hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan teori yaitu argumentasi teori dan pola-pola teori

3.     Metodologi. Metode yang kita pilih untuk menjelaskan atau menjabarkan setiap tahapan yang kita gunakan dalam penelitian. 

 

Sementara untuk Format Jurnal bisa kita gunakan format di bawah ini: 

·       Pendahuluan

·       Teori

·       Pembahasan 

·       Penutup

 

Jika kita mau menulis artikel dan mengambil dari beberapa jurnal kita bisa memakai teknik parafrase. Kita bisa merubah tulisan yang sudah kita pahami maksudnya. Dalam hal ini kita merubah satu alinea yang sudah kita pahami maksudnya. Hal-hal yang berbau umum kita bisa menarasikan sendiri tetapi terkait dengan hal-hal tertentu terkait konsep atau istilah seperti demokrasi, toleransi, dll. perlu kita mengutip pendapat para ahli. Motto lain yang diungkapkan sang Dosen muda itu adalah "Keberuntungan mengikuti orang yang siap bukan orang yang berani." 

Di akhir kegiatan Kadis Kearsipan dan Perpustakan memimpin dalam acara bedah hasil karya  siswa SMAN 1 Gerung. Beliau memberikan apresiasi kepada siswa yang sudah mau mengkritik sastra dengan diksi di mana mereka merupakan siswa IPA bukan jurusan bahasa Indonesia. Kritik sastra harus dimulai dari sosiologi sastra. Ke depan tetap memperhatikan trennya. Beliau berharap peserta didik terus meningkatkan bakat dan minatnya. Selain itu diberikan tantangan lagi menulis ilmiah dan obyektif  terkait merdeka belajar menurut versi diri  sendiri.

         

Cukup sudah pemaparan materi dari narasumber luar biasa sore hari itu. Apa yang mereka      sampaikan sangat padat, luas, dan menginspirasi. Semoga ke depannya semakin menamah wawasan bagi seluruh peserta. Segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin asalkan mau berusaha dan siap.  


1 Komentar

  1. Tulisannya mantap. Lanjutkan!!!. Kata yang benar itu mood bukan mud

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama