TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"

PENTIGRAF
TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"
OLEH : Ridhan Hadi

Gemerincing suara air terjatuh dari sela-sela genteng yang pecah, bagai alunan gamelan yang dipukul penabuh. Terdengar juga suara gemuruh mengiringi, menggelegar di balik pembatas aku dengan langit. Seakan tak mau jauh dariku. Berputar sekitar lereng Gunung Rinjani. Namun, aku merasa risih dengannya. Ingin aku selimuti bumi ini, agar tidak tersentuh oleh pijarnya yang membakar. terasa badan ini gemetar. Suaranya begitu lancang. Merasuk sampai dadaku yang paling dalam, Membuat telingaku enggan mendengar. Mataku pun sulit terpejam.

PENTIGRAF, musibah longsor, gunung rinjani, lereng Gunung Rinjani, Lereng Rinjani longsor, Gunung longsor, rinjani longsor, terdengar tuhan menangis,

Malam itu sangat mencekam. Gemuruh bersahutan, menggelegar seakan membelah langit lereng Rinjani. Di sela suara, terdengar teriakan dari kejauhan meminta tolongan. Hah…, ini sudah kuduga lereng itu takkan pernah mau bersahabat lagi, karena begitu banyak pohon yang kalian jarah darinya. Lereng Rinjani longsor menimpa rumah penduduk. Dia meminta korban karena kebrutalan jiwa yang haus akan kekayaan.


Terdengar suara riuh datang mendekat ke pondok kecilku. Istriku langsung berteriak memanggil namaku, ternyata yang dibawa orang-orang tadi adalah putraku yang terkena oleh musibah longsor lereng Rinjani. Aku mengira dia sudah pulang dari mainnya. Tak sabar rasanya ingin aku menamparnya. Suaraku sudah ku angkat siap meraung, Ku lihat putraku ketakutan. aku ingin segera memberi pelajaran. Namun, istriku melarang agar jangan melanjutkan. Dia memeluk putranya sambil berkata Lirih "Tu Han menangis gara-gara Bapak marahi". Aku melongok terdiam, butuh beberapa saat untuk mengerti apa yang dikatakan istriku. Ternyata, yang dimaksud istriku. Handika, putra kami menangis karena aku marahi. 

SAHMAN

Sahman, S.Pd seorang anak yang terlahir dari rahim keluarga petani. Ia menghabiskan waktu kecilnya dihamparan persawahan yang ada di bundaran Giri Menang Square ( GMS). Tekadnya yang kuat menghantarnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Krikil-kirikil tajam, ia lalui. Universitas kehidupan telah banyak memberikan ilmu bermanfaat yang ia tidak dapatkan dibangku kuliah. Ia pertama kali mengenal dunia tulis menulis berawal ketika berprofesi sebagai loper koran. Sebagai manusia pembelajar, ia meningkatkan kompetensi diri. Akhirnya, ia selama 16 tahun berkecimpung didunia jurnalistik. Berbagai peristiwa dan kebijakan pemerintah daerah Lombok Barat tak terlepas dari goresan penanya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama