Yuk, Bisa, Yuk!

"Yuk bisa, Yuk!"

Oleh: Muhamad Fathul Aziz, S.Pd

Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu lebih kuat.

Familiar dengan lirik lagu "Stronger" miliknya Kelly Clarkson ini? Saya yakin setidaknya Anda pernah mendengar quote-quote atau kata-kata motivasi yang senada dengan arti lirik lagu tersebut. Saya juga yakin Anda menyetujui kalimat itu. Sebab Anda dan tentunya juga saya, pasti pernah melewati masalah-masalah yang saat itu terasa amat beratnya, namun setelah kita melewatinya, masalah itu kini justru memberikan kita pengalaman yang berharga sebagai modal untuk bertumbuh.

Lihat saja betapa sabarnya kita hari ini terhadap kekalahan. Lihat juga betapa waspadanya kita sekarang terhadap bencana. Itu adalah bukti bahwa masalah telah menguatkan kita. Contoh paling literalnya lagi dan sedang hangat saat ini adalah proses vaksinasi. Virus-virus yang telah dilemahkan dan disuntikkan ke dalam tubuh kita dan tidak berhasil mengalahkan anti bodi, justru menjadi penguat sistem imun dalam diri kita.

Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah cukup tangguh untuk melewati setiap masalah dan tantangan yang ada di depan? Masing-masing kita tentu memiliki jawaban berbeda tergantung pada seberat apa masalah yang telah kita lewati, sedalam apa refleksi kita terhadap masalah-masalah itu, juga sebanyak apa persiapan-persiapan yang kita miliki.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi beberapa hal yang pernah saya pelajari. Belum sempat saya praktikkan secara sempurna namun layak untuk kita ketahui bersama. Saya percaya bahwa dengan membaginya, maka pemahanan saya akan bertambah dan pada akhirnya saya bisa lebih baik dalam praktiknya.

Resiliensi

Kemampuan melenting adalah kemampuan yang telah kita miliki dan perlu terus kita latih agar kemampuan itu semakin kuat. Melenting di sini bukan secara harfiah tubuh kita melenting elastis saat terbentur sesuatu. Melenting yang saya maksud adalah kemampuan bangkit setelah dilempar keras ke dalam masalah. Setelah didera berbagai cobaan. Setelah diuji bermacam tantangan. Kemampuan untuk terus melanjutkan hidup dengan gagah walaupun ujian-ujian terus berdatangan. Persis seperti bola kasti yang dibanting ke lantai. Atau seperti per yang ditekan dengan kuat.

Kemampuan melenting ini disebut juga kemampuan resiliensi. Istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Block (dalam Kohnen: 1996) yang diartikan sebagai kemampuan penyesuaian diri dan luwes saat dihadapkan pada tekanan baik dari internal maupun eksternal. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat melatih kemampuan resiliensi. Salah satunya adalah dengan membangun kesadaran dan memanfaatkan sumber resiliensi pribadi seperti yang dibagikan oleh CASEL (The Collaboratif, Academic, Social and Emotional Leraning), yaitu I have (saya memiliki), I am (saya adalah), dan I can (saya bisa).

I have (saya memiliki) adalah sumber resiliensi yang berupa dukungan sosial dari sekitar yang kita miliki. Kualitas penentu pembentukan resiliensi dari sumber ini bergantung pada hubungan yang dilandasi kepercayaan, struktur dan peraturan dalam keluarga, model-model peran, dorongan untuk mandiri, serta akses terhadap kesehatan, pendidikan, keamanan, dll.

I am (saya adalah) adalah sumber resiliensi yang berkaitan dengan kekuatan dalam diri meliputi perasaan, sikap, dan keyakinan. Kualitas penentunya antara lain:

- penilaian personal bahwa diri memperoleh kasih sayang dan disukai

- empati, peduli, dan cinta

- kebanggaan pada diri

- bertanggungjawab

- optimis, percaya diri, dan memiliki harapan.

Sumber resiliensi pribadi terakhir adalah I can (saya bisa). Ini merupakan sumber resiliensi yang berkaitan dengan usaha yang dapat dilakukan seseorang untuk memecahkan masalah. Kualitas penentunya adalah kemampuan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan mengelola emosi, kemampuan mengenali temperamen diri dan orang lain, serta kemampuan menjalin hubungan yang penuh kepercayaan.

Ketiga sumber resiliensi pribadi ini dapat kita manfaatkan saat menemui masalah atau tantangan apapun. Saat mata pencaharian tersendat, saat banyak tugas kampus, saat kalah pemilu, saat menerima sanksi, saat dibebani berbagai tanggung jawab dan sebagainya. Dengan menyadari bahwa kita memiliki sumber resiliensi pribadi dan memanfaatkannya dengan baik, maka tidak ada masalah dan tekanan apapun yang melebihi kekuatan kita. Bahkan amat mungkin kita mampu menertawainya. Bukankah Tuhan telah berfirman bahwa "Allah tidak membebani seseorang sesuai dengan kesanggupannya..." (Al-Baqoroh:286).

Yuk bisa, Yuk!



1 Komentar

Lebih baru Lebih lama