Merenungi Praktik Baik Melalui Budaya Refleksi


"Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, refleksi tanpa belajar adalah berbahaya" 

Adagium diatas mengambarkan betapa pentingnya sebuah jurnal refleksi. Melalui jurnal  ini guru bisa bercermin apa yang sudah dilakukan atau sebaliknya.

Agar refleksi bisa berjalan, ada setumpuk harapan disandarkan kepada pemimpin pembelajaran yakni kepala sekolah. Para guru, peserta didik,  dan orang tua berharap, mampukah pemimpin pembelajaran pada satuan pendidikan melakukan refleksi setiap satu kali seminggu? Bila pemimpin pembelajaran mampu menghasilkan refleksi satu kali seminggu di satuan pendidikan akan menjadi gambaran untuk merenungi praktik baik yang sudah dan belum dilakukan ekosistem di satuan pendidikan tersebut.

Jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci terhadap proses belajar dan pembelajaran karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). 

Salah satu tugas utama yang diemban oleh seorang pemimpin pembelajaran adalah jalannya proses belajar mengajar di sekolah menuju pencapaian  hasil belajar yang maksimal.

 Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah bertanggungjawab atas prestasi atau hasil belajar peserta didik di sekolah yang dipimpinnya. 

Salah satu langkah kepemimpinan yang efektif untuk membudayakan refeleksi menurut McEwan (2002) dengan mengembangkan konsep kepemimpinan pembelajaran yang lebih operasional salah satunya dengan indikator seperti mengevaluasi kemajuan ekosistem belajar dan mengajar melalui jurnal refleksi. 

Agar jurnal ini bisa membudaya di ekosistem satuan pendidikan, maka mempersyaratkan kepemimpinan pembelajaran yang tangguh (strong instructional leadership) dari kepala sekolahnya., disamping karakteristik-karakteristik lainnya, seperti harapan yang tinggi dari prestasi peserta didik, iklim sekolah yang positif bagi kegiatan belajar mengajar dan monitoring kemajuan belajar yang berkelanjutan (Davis & Tomas, 1989, Smith & Andrew, 1989).

Kemendikbudristek RI telah mengumumkan hasil raport satuan pendidikan. Salah satu yang menjadi indikator penilaian satuan pendidikan adalah indeks refleksi guru. Dari indeks  refleksi ini mengambarkan sebagian besar satuan pendidikan belum secara maksimal membudayakan  refleksi. Budaya refleksi masih menjadi hal yang baru bagi satuan pendidikan. 

Padahal menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001).

SAHMAN

Sahman, S.Pd seorang anak yang terlahir dari rahim keluarga petani. Ia menghabiskan waktu kecilnya dihamparan persawahan yang ada di bundaran Giri Menang Square ( GMS). Tekadnya yang kuat menghantarnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Krikil-kirikil tajam, ia lalui. Universitas kehidupan telah banyak memberikan ilmu bermanfaat yang ia tidak dapatkan dibangku kuliah. Ia pertama kali mengenal dunia tulis menulis berawal ketika berprofesi sebagai loper koran. Sebagai manusia pembelajar, ia meningkatkan kompetensi diri. Akhirnya, ia selama 16 tahun berkecimpung didunia jurnalistik. Berbagai peristiwa dan kebijakan pemerintah daerah Lombok Barat tak terlepas dari goresan penanya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama