Eksplorasi Konsep Meramu Hasil Belajar

 

 

Raden mas  Soewardi Soerjaningrat  atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara nama yang begitu lekat difikiran kita dengan semoboyan Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, tidak pernah lekang dimakan waktu yang selalu menggelorakan semangat perjuangan dan kemajuan di dunia pendidikan , sebagai filosofi Pratap Triloka terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Ing ngarso sung tulodo, berarti seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (murid). Guru harus memulai dari dirinya sendiri yang kemudian terefleksikan dalam keteladanan setiap mengambil keputusan. Inilah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keteladanan menjadi sebuah hal yang penting karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya.

Ing madya mangun karsa, berarti guru (pemimpin) harus bisa bekerja sama dengan orang yang didiknya (murid). Sehingga pembelajaran yang dilakukan akan terasa mudah dan akan semakin mempererat hubungan antara guru dengan murid. Dengan menerapkan ing madya mangun karsa, guru diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus sebagai pengganti orang tua murid, sehingga guru mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching  terhadap muridnya dalam mengambil keputusan , dengan melakukan coaching diharapkan mampu untuk membuka komunikasi positif antara guru dengan murid , karena tidak semua murid memiliki kemauan , kemampuan untuk mengutarakan permasalahannya secara terbuka atas segala kejadian dan permasalahan yang dihadapinya .

Tut wuri handayani berarti memberi kesempatan kepada murid untuk maju dan berkembang. Memberikan ilmu dan bekal yang akan menambah wawasan dan kepintaran murid. Inilah fungsi seorang guru sebagai coach dan motivator, ia mampu mendorong kinerja murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

 Pendidikan dapat menjadi ruang bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Dalam pendidikan berpusat pada murid, pemikiran ini bisa diartikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Dari segi kemanusiaan, pendidikan tidak pernah melepaskan diri dari hakikat murid sebagai makhluk individu dan sosial. Selain itu, juga berarti bahwa dalam proses pendidikan ada sisi kemanusiaan yang juga harus dijaga dan dikembangkan. Pemikiran lainnya, yaitu pendidikan adalah tempat persemaian benih kebudayaan. Demikian halnya dengan pemikiran ini. Dalam implementasi pemikiran ini, guru harus berpusat pada murid. Dengan demikian akan tumbuh kasih sayang dan keikhlasan dalam menumbuhkembangkan murid sebagai benih. Seperti halnya yang dilakukan oleh petani dalam memberikan yang terbaik terhadap benih tanamannya. Petani tahu persis tentang benih yang ditanamnya. Dari pemahaman awal itu petani akan mudah menentukan cara menumbuhkembangkannya dengan baik.

Pemikiran lainnya, yaitu pendidikan hendaknya senantiasa terbuka terhadap perubahan, tetapi harus tetap waspada terhadapnya. Hal ini penting karena bagaimanapun juga pelibatan murid secara penuh tidak lepas dari kodrat alam dan zaman. Keduanya sangat berhubungan erat dengan kreativitas guru dalam menciptakan pembelajaran bermakna sesuai zaman. Terakhir adalah pemikiran terkait pendidikan merupakan upaya membentuk budi pekerti dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Pada pendidikan berpusat pada anak, setidaknya ada satu profil pelajar Pancasila yang dikembangkan. Hal ini merupakan pertimbangan dalam proses pembelajaran bermakna.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama